Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Tugas TOU2 Minggu Ke-1


Kader Posdaya, Potret Nyata
Pahlawan Pemberdayaan

Laporan: Hari Setyowanto

 

Setiap tahun, tepatnya tanggal 10 Nopember bangsa Indonesia selalu memperingati Hari Pahlawan. Semangat heroisme dan patriotisme para pahlawan sejatinya masih menyala dalam kehidupan modern saat ini, termasuk dalam diri para pejuang pemberdayaan kesejahteraan keluarga.
Kegiatan memperingati hari Pahlawan menjadi salah satu momen dan agenda kenegaraan yang sejak dulu rutin dilaksanakan. Peringatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memelihara semangat sekaligus mengenang dan memberikan penghargaan kepada para pejuang yang telah berjasa bagi bangsa dan negara. Seiring perkembangan jaman, peringatan ini juga orang lain maupun keluarga.
Melihat makna kata pahlawan dalam konteks yang lebih luas berarti siapa saja, dalam bidang apa pun dan tidak harus sudah meninggal dapat menjadi pahlawan. Semua orang dapat menjadi pahlawan, selama yang dilakukannya adalah hal-hal yang menunjukkan sifat-sifat kepahlawanan, yang bernilai luhur demi kepentingan orang banyak termasuk para pelaku pemberdayaan keluarga yang ada di sekitar lingkungan.
Semangat perjuangan yang dulu dimiliki para pejuang pahlawan bangsa dapat menjadi acuan bagi para pejuang pemberdayaan keluarga dan masyarakat masa kini. Pada masa lalu perjuangan para pejuang yang sangat tinggi nilainya karena melawan penjajah.
“Hal ini secara tidak sadar akan dapat mengilhami para penjuang-pejuang yang sekarang sedang mengisi kemerdekaan salah satunya pejuang pemberdayaan keluarga,” demikian diungkapkan Dr Andun Sudijandoko, Mkes terkait bagaimana memaknai momen peringatan Hari Pahlawan yang dikaitkan dengan era kekinian.
Lebih lanjut Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Surabaya mengatakan bahwa seiring perputaran roda waktu, pergeseran makna pahlawan nampaknya telah meluas menjadi konotasi yang lebih plural.
”Di masa kini, pahlawan yang sejati itu yang mampu menempatkan dirinya untuk mengisi kemerdekaan dengan berkarya sesuia dengan kompetensi dan bidang masing-masing yang dapat diterima di masyarakat yang sesuai norma Pancasila dan UUD 45,” paparnya.
Ia menambahkan, pahlawan tak terbatas dalam sebuah sosok saja melainkan sebuah gambaran realita yang memberikan kontribusinya juga adanya pengorbanan bagi banyak orang. Seperti seorang petani yang berjasa akan beras bagi kebutuhan pokok bangsa kita, para TKI yang jauh dari sanak saudara dan menyumbangkan devisa bagi negara ini, guru sebagai pahlwan tanpa tanda jasa. Bahkan seorang ibu memegang peranan besar, karena telah melahirkan dan membesarkan orang-orang hebat, dan sosok pahlawan lainnya.
Saat ini, sebut Andun, kita butuh pahlawan-pahlawan pemberdayaan keluarga. Di mana pemberdayaan masyarakat maupun keluarga merupakan proses pembangunan di mana masyarakat maupun keluarga berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Dan pemberdayaan masyarakat maupun keluarga hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi.
“Partisipasi merupakan hal terpenting dalam upaya mencapai kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Model pembangunan
Mutu manusia Indonesia tidak kunjung maju bila dibandingkan dengan mutu bangsa-bangsa lain di dunia, oleh karena keluarga (individu, kelompok) Indonesia belum berkembang dengan baik untuk menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhannya secara mandiri.
Pembangunan manusia akan sangat efektif apabila dilakukan dalam lembaga keluarga (individu, kelompok). Keluarga yang bermutu dan kuat, akan menjadi wahana pembangunan bangsa yang sangat efektif sebagai SDM.
Demikian pendapat Dr Achmad Helmy Djawahir, SE, MM dari Pusat Kajian, Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, Menengah dan Koperasi, Kewirausahaan, Masyarakat (Puskabang UMKM dan KKM) Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.
Untuk itu, menurut Helmy, diperlukan dukungan pemberdayaan, pelayanan paripurna, dinamis agar setiap keluarga dapat melaksanakan fungsi-fungsi utamanya dengan baik, guna membangun seluruh anggota keluarganya.
Apabila seluruh keluarga dapat membangun anggotanya dengan baik, maka seluruh anak bangsa akan dapat menjadi SDM yang beriman, bermutu, handal, sanggup membangun negara dan bangsanya.
Helmy mengungkapkan, pemberdayaan keluarga harus paripurna, diperlukan lembaga pemberdaya dalam masyarakat, oleh masyarakat, menjadi milik masyarakat, menampung masukan untuk mengembangkan keluarga agar dapat melaksanakan 8 fungsi utamanya, yang disebut dengan Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Baik itu Posdaya berbasis Masjid atau agama, Posdaya berbasis Pendidikan, Posdaya berbasis Kesehatan, Posdaya berbasisi Ligkungan maupun Posdaya berbasis Koperasi.
Lebih lanjut dosen jurusan manajemen FE Universitas Brawijaya ini menjelaskan bahwa Posdaya adalah forum, wadah, media atau sarana bagi keluarga baik individu maupun kelompok untuk mengembangkan diri di bidang kehidupan, seperti agama, kesehatan, pendidikan, ketahanan sosial, lingkungan, dan ekonomi, bagi seluruh anggotanya melalui gotong royong atau kerja sama dalam kelompok atau masyarakat.
Pembangunan keluarga melalui Posdaya itu, ujar Helmy Djawahir, sebetulnya merupakan suatu alat strategis untuk pembangunan keluarga, masyarakat dan bangsa. Pada hakekatnya manusia, bicara manusia itu bisa masyarakat bisa rakyat bisa juga bangsa itu pasti punya tujuan atau harapan dalam kehidupan yang disebut dengan kesejahteraan. Untuk mencapai kesejahteraan tersebut masyarakat tidak bisa berjalan sendiri tetapi harus ada fasilitasi yang namanya kelembagaan eksternal.
Manusia itu mahluk sosial karena dalam mencapai tujuan harus bersama-sama atau berkelompok. Salah satu alat yang akan digunakan manusia untuk mencapai tujuan tersebut adalah Posdaya.
Karena Posdaya itu program-programnya itu menyangkut pilar-pilar kehidupan strategis. Yakni mulai pilar sosial, budaya, lingkungan, ekonomi. Sebagai contoh dalam Posdaya yang dimotori yayasan Damandiri bersama mitra kerjanya itu ada Posdaya berbasis masjid itu merupakan pilar sosial. Kemudian Posdaya berbasis pendidikan itu pilar sosial. Posdaya berbasis kesehatan itu sosial. Posdaya berbasis lingkungan itu lingkungan. Serta Posdaya berbasis ekonomi koperasi karena memang basisnya itu ekonomio koperasi.
Kalau Posdaya bisa dilaksanakan secara utuh maka terlebih dulu harus mempunyai kemampuan terlebih dulu (ability). Kalau sudah punya ability pasti punya kualitas (quality). Kalau sudah punya kualitas pasti punya value (nilai).
Semuanya itu bisa dicapai oleh manusia baik secara individu maupun berkelompok dengan keluarganya untuk mencapai harapan atau memenuhi tujuan yang diinginkan. Begitu pun kehidupan itu juga memiliki tujuan, yaitu materiil dan nonmateriil. Posdaya bisa membangun itu dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuannya negara. Program Posdaya ini sebetulnya bisa digunakan sebagai media membantu pemerintah mencapai tujuan negara yaitu kesejahteraan rakyat. Lima pilar dalam Posdaya merupakan pilar yang sangat bagus untuk membangun kehidupan.
Sebagai perguruan tinggi bisa menjadi fasilitator, mediator maupun dinamisator. Posdaya yang dibina Universitas Brawijaya itu lebih berorientasi kualitas dan bukan kuantitas. Hingga saat ini ada sekitar lebih dari 20 Posdaya yang tersebar di beberapa daerah di wilayah Malang.
Dalam kegiatan Posdaya, kader Posdaya merupakan ujung tombak terdepan itu bisa kita sebut sebagai pahlawan pemberdayaan yang sebenarnya. Kalau masyarakat mau melaksanakan program Posdaya secara utuh justru hasil akhirnya adalah kesejahteraan. Dan semua pihak yang ada di Indonesia harus selaras dengan tujuan negara yaitu kesejahteraan. Jadi menurut saya Posdaya itu mengarah ke sana (tujuan kesejahteraan). Oleh karena itu efektif dan efisiensinya program Posdaya, kalau out putnya orang yang ikut dalam kegiatan Posdaya itu harus lebih baik dalam ukuran kesejahteraan.
Sementara itu Dr Andun Sudijandoko, Mkes, yang berpendapat model pembangunan keluarga yang dapat membantu memacu dan memicu pencapaian target MDGs 2015 itu sebetulnya banyak ragamnya, namun yang sangat menjanjikan dan realitanya jelas yaitu melalui kelompok Posdaya di masyarakat. Ia menambahkan, memberdayakan masyarakat melalui kelompok Posdaya binaan Universitas Negeri Surabaya dan di lakukan pendampingan pula secara kontinyu, hal ini dilakukan sesuai dengan delapan sasaran MDGs.
Dalam pelaksanaanya, ia terus meningkatkan optimalisasi, karena dalam pendampingan di kelompok Posdaya dilakukan secara periodik juga dilakukan monitoring dan evaluasi (Monev) sehingga semuanya akan terkontrol secara baik.
Posdaya, kata Andun, merupakan model yang bisa dilaksanakan dan dijadikan model pembangunan keluarga. Model pembangunan keluarga ini sangat bagus dan sangat tepat sekali, karena Posdaya merupakan Kelompok Pemberdayaan Keluarga di desa, kota, maupun di tingkat Provinsi yang ikut terlibat dalam pembangunan bangsa ini, yang diawali dari masing-masing kelompok keluarga yang sesuai dengan pengembangan MDGs.
Sedangkan Wakil Walikota Jakarta Selatan HM Effendi Anas, SH, MM yang memiliki perhatian besar terhadap model pembangunan keluarga melalui Posdaya ini menilai pemberdayaan masyarakat yang mengangkat kegiatan nyata dan langsung.
Ia mengungkapkan, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Jakarta Selatan juga sudah mengembangkan Posdaya. Posdaya di Jakarta Selatan ini dikembangkan sebagai hasil kemitraan dengan Universitas Pancasila selaku mitra Yayasan Damandiri.
“Posdaya ini sangat bermanfaat untuk membantu mengembangkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pembangunan keluarga di lingkungan RW (Rukun Warga),” jelasnya.
Orang nomor dua di Pemerintahan Kota Jakarta Selatan ini menambahkan, kegiatan pemberdayaan yang terangkum dalam Posdaya, seperti komposing dan kebun bergizi sangat baik sekali untuk warga DKI Jakarta. Kenapa dikatakan demikian, karena menurutnya, komposing selain bisa dimanfaatkan hasilnya oleh warga masyarakat untuk tanaman buah dan bunga dalam potnisasi untuk keperluan sendiri juga bisa membantu mengurangi volume sampah.
Selain itu, pupuknya bisa digunakan sebagai komposing tanaman bergizi yang mana tanaman bergizi ini dapat dilaksanakan dalam skala kecil. Karena di DKI Jakarta ini sulit untuk memperoleh lahan yang luas.
”Jadi untuk kepentingan keluarga bisa ditanam di halaman rumah atau potnisasi tanaman bergizi untuk kepentingan sendiri maupun bisa dijual kalau lebih untuk dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat yang lain. Oleh karena itu kami sangat mendukung para kader sebagai ujung tombak terdepan dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan keluarga melalui pemberdayaan keluarga atau Posdaya ini,” papar Effendi Anas seraya menambahkan bahwa pemberdayaan keluarga yang selama ini dilakukan oleh TP PKK Jakarta Selatan kepada para kader di antaranya melalui kegiatan ketrampilan membuat berbagai macam kerajinan, home industri, kemudian UP2K, dan lainnya sehingga dapat memenuhi kebutuhan keluarga juga bisa dimanfaatkan oleh keluarga yang lain.
Baik Effendi, Dr Andun maupun Dr Helmy Djawahir sependapat apabila dalam kegiatan Posdaya, kader Posdaya merupakan ujung tombak, apakah mereka sejatinya bisa disebut sebagai pahlawan-pahlawan pemberdayaan pembangunan keluarga yang sebenarnya.
”Kader Posdaya sudah ikut serta membangun yang tanpa dilambari sebuah imbalan, namun itu karena sebuah kesadaran yang dituangkan melalui Pemberdayaan Keluarga di masyarakat. Itulah hakekat pahlawan-pahlawan pemberdayaan keluarga yang sejatinya banyak ada di tengah masyarakat kita,” ujar Dr Andun Sudijandoko, Mkes.
Namun, imbuh Dr Helmy Djawahir bahwa mereka bukanlah Superman karena mereka senang bekerja atas nama kelompok, bergotong royong bersama team work-nya. Dan merekalah contoh nyata, para pahlawan pemberdayaan keluarga yang dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari baik di pedesaan maupun perkotaan.

Sumber :
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar