Halo teman-teman, kali
ini saya akan memposting tugas Teori Organisasi Umum2 mengenai “contoh
pengambilan keputusan yang paling berat terjadi dalam hidup anda!”
Mungkin mengenai
pilihan universitas saja kali ya, jadi begini...
Setelah lulus SMA saya bingung
mau mencoba di universitas mana. Saya ingin mencoba snmptn, namun ternyata almh
mamah saya menyarankan supaya saya masuk Universitas Gunadarma. Karena apakah
almh mamah saya menyarankan kuliah di Universitas Gunadarma?
Karena, beliau tidak
ingin kalau saya kuliah jauh-jauh apalagi sampai harus ngekos. Beliau ingin
saya kuliah di universitas yang terjangkau naik angkot dan tidak begitu jauh
dari rumah. Kemudian katanya kampus yang disarankan mamah itu bagus dalam
bidang ITnya, sehingga mamah saya semakin mantap untuk menguliahkan saya di
Gunadarma. Sehingga saya harus memutuskan, oke! Saya akan menuruti permintaan
mamah saya. Karena saya yakin apa yang dikatakan orang tua itu tidak pernah
salah. Apalagi seorang ibu. Dan setiap orang tua itu pasti ingin yang terbaik
untuk anak-anaknya. Jadi saya meyakinkan diri saya. Ketika teman-teman yang
lain mencoba snmptn dan lolos pada universitas yang mereka inginkan. Bisa
dikatakan itu merupakan keputusan yang cukup berat karena harus memilih apa
kata hati dan diri sendiri atau kata mamah. Namun pada akhirnya saya memutuskan
untuk kuliah di Universitas Gunadarma, tidak dengan terpaksa juga saya masuk
kampus tersebut. Saya jalani saja dengan sebaik mungkin karena itu adalah saran
dan permintaan dari mamah, orang yang sangat saya sayangi. Sedikit bercerita
lagi, yang kedua itu ketika saya mendapat undangan program studi Sarmag.
Pertama dapat undangan, seneng pastinya. Hingga saya mengikuti step by step
testnya. Dari mulai test toefl, hingga interview. Setelah tes, masih harus
menunggu hasil kan pastinya. Pokoknya dari awal saya selalu cerita sama mamah
mengenai undangannya, apa itu Sarmag, bagaimana testnya, dsb...
Akupun bilang, jika
pada akhirnya aku lolos, maka kuliah aku sudah tidak di kalimalang lagi kan
kuliahnya. Tapi di Simatupang. Dan itu pasti ngekos. Karena aku tidak bisa
kalau harus pulang pergi. Fisik aku pun tidak mumpuni sepertinya.
Namun, setelah mamah
mendengar certaku seperti itu, dengan nada sedih mamah berkata “Kalo yayang
sayang sama mamah, saran mamah kalopun nantinya lolos nggak usah diambil. Nanti
kalo yayang lolos, dan ngekos mamah ga ada temennya, nanti mamah sama siapa,
kalo mamah sakit bagaimana, siapa yang mengurus mamah...” (Maaf, yayang itu
panggilan saya dirumah)
Itu bukan lebay loh
yaa, karena saya pun memaklumi memang yang paling dekat dengan mamah itu saya,
karena anak bungs. Dan kakak-kakak saya sudah pada menikah. Seketika saya
mendengar itu saya jadi apa yaa...
Dapat dikatakan jadi
kepikiran. Pasti terpikir jauh-jauh hari dong, seandainya lolos tes apa mau
diambil atau tidak. Kalau seandainya saya lolos, namun tidak diambil, kan berat
juga. Kalo diambil lebih berat lagi. Sedangkan mamah sudah berkata seperti itu.
Memang saya merasa berat sekali kalau harus pisah dengan mamah. Karena
kondisinya kan mamah juga sakit-sakitan.
Maka saya berdoa
memohon padaNYA agar diberikan yang terbaik. Saya selalu memikirkan kalau saya
lolos mau tetap diambil atau tidak. Saya pun meminta pendapat teman-teman
terdekat saya. Dengan berbagai masukan dari mereka...
Hingga pada akhirnya...
setelah menunggu kurang lebih 1 mingguan saya tidak mendapat kabar lagi, namun
3 teman saya lolos. Sudah dapat dipastikan berarti saya tidak lolos. Entah
mengapa tidak ada perasaan yang terlalu nyesek, saya merasanya biasa saja. Saya
menganggap, mungkin inilah jawaban dari doa saya. Jadi saya bersyukur
sangat-sangat bersyukur karena tidak lolos, sehingga saya memiliki banyak waktu
untuk mamah saya, merawatnya ketika sakit hingga pada akhirnya mamah saya
dipanggil oleh Allah pada 15 Januari 2014 lalu.










0 komentar:
Posting Komentar